Semoga Kisah ini bagus untuk dijadikan perenungan kita semua.
Pada suatu pesta PERKAWINAN EMAS, nyonya rumah yg sudah tua menjawab pertanyaan MC, dan inilah dialog mereka......
MC : Apakah ibu merasa suami ibu ada kekurangannya?
Si nyonya : Sebanyak bintang di langit ! Tidak sanggup menghitung semuanya !
MC : (Terkejut) Apakah kebaikan suami ibu juga banyak sekali?
Si nyonya: Sedikit sekali ! Bagaikan matahari di langit !
MC : (Gregetan) Terus kenapa ibu bisa hidup bersamanya setengah abad dab tetap saling menyayangi ? (Heran)
Si nyonya: Karena begitu matahari terbit, semua bintang di langit jadi tdk kelihatan !
MC : Luaaaarr biasaa..
"Kebencian menimbulkan pertengkaran...tetapi rasa kasih sayang menutupi semua kekurangan..."
Sungguh luar biasa sekali. Inilah rahasia keharmonisan dan kerukunan dimana pun juga. Kelanggengan persahabatan, keharmonisan pasangan, kerukunan keluarga karena saling mengalah dan melihat kebaikan masing-masing atas dasar "Kasih Sayang"
Kumpulan Broadcast | Kumpulan BC | Numpang BC | Kumpulan SMS | Comunitas Online Shop | Tukar PIN BB | Add PIN BB | Invite PIN BB | Kumpulan Iklan | Kumpulan Broadcast BBM | Numpang BC BBM | Kumpulan Cerita Lucu | Kumpulan Cerita Inspiratif | BC Cerita Lucu | BC Iklan | Lowongan Kerja
Sabtu, 22 Februari 2020
Senin, 17 Februari 2020
True Story.. Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu
Ini adalah
kisah dari milis warga Indonesia yg
bermukim atau pernah bermukim di Jerman.
Layak untuk dibaca
beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.
Saya adalah ibu dari
tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya.
Kelas terakhir yang
harus saya ambil adalah Sosiologi.
Tugas terakhir dosen
yang diberikan kepada siswanya diberi
nama "Smiling."
Seluruh siswa
diminta untuk memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan
mendokumentasikan reaksi mereka.
Setelah itu setiap
siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas.
Saya adalah seorang
yg mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,
tugas ini sangatlah mudah.
Setelah menerima
tugas tsb, saya bergegas menemui suami san anak bungsu saya yang menunggu di
taman kampus, lalu pergi ke restoran Mc Donald yg berada di kampus.
Pagi itu udaranya
sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya
minta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk dan
saya ikut antrian.
Ketika saya sedang
dalam antrian, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan
bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari
antrian.
Perasaan panik
menguasai diri saya, ketika melihat mengapa mereka semua menyingkir ?
Saat berbalik, saya
membaui suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat
di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil.
Saya bingung, dan
tidak mampu bergerak sama sekali.
Ketika saya
menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, dan ia
sedang "tersenyum" kearah saya.
Lelaki ini bermata
biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap
kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya' ditempat
itu.
Ia menyapa
"Good day !" sambil tetap tersenyum. Secara spontan saya membalas
senyumnya, dan seketika teringat oleh saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen
saya.
Lelaki kedua sedang
memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya.
Saya segera
menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan
mata biru itu adalah "penolong"nya.
Saya merasa sangat
prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal
saya bersama mereka, dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter.
Ketika wanita muda
di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan
kedua lelaki ini untuk memesan duluan.
Lelaki bermata biru
segera memesan "Kopi saja, satu cangkir Nona."
Ternyata dari koin
yang dia pegang hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka. (Aturan di restoran
di Jerman, jika ingin duduk di dalam restoran n menghangatkan tubuh, maka orang
harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan
badan.
Tiba2 saja saya
diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil
mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yg terpisah dari tamu2
lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka.
Pada saat yang
bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga
sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua 'tindakan' saya.
Saya baru tersadar
setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa
yang ingin saya pesan ?
Saya tersenyum dan
minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan
terpisah.
Setelah membayar
semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk
mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya.
Sementara saya
membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih
kedua lelaki itu untuk beristirahat.
Saya letakkan nampan
berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung
telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap "makanan
ini telah saya pesan untuk kalian berdua."
Kembali mata biru
itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2 dan dia
hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya."
Saya mencoba tetap
menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata "Sesungguhnya
bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Allah juga berada di sekitar sini
dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini
kepada kalian."
Mendengar ucapan
saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil
terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.
Saya sudah tidak
dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung
dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka.
Ketika saya duduk
suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata
"Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang
pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku dan anak-2ku !"
Kami saling
berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan
menyadari, bahwa hanya karena 'bisikanNYA' lah kami telah mampu memanfaatkan
'kesempatan' untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat
membutuhkan.
Ketika kami sedang
menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan
disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami,
untuk sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan kami.
Salah satu
diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap "Tanganmu
ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini,
jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang
telah kamu contohkan tadi kepada kami."
Saya hanya bisa
berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan
restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada
'magnit' yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami
sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah kami.
Dalam perjalanan
pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua
orang tunawisma tadi, itu benar2 'tindakan' yang tidak pernah terpikir oleh
saya.
Pengalaman hari itu
menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Allah itu sangat HANGAT dan INDAH
sekali!
Saya kembali ke
college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini ditangan saya. Saya
menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya.
Dan keesokan
harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia
melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini
kepada yang lain ?" dengan senang hati saya mengiyakan.
Ketika akan memulai
kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia
mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan
ruangan kuliah menjadi sunyi.
Dengan cara dan gaya
yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang
hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian
itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya
diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.
Diakhir pembacaan
paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu
kalimat yang saya tulis diakhir paper saya.
Dengan caraNYA
sendiri, Allah telah 'menggunakan' diri saya untuk menyentuh orang-orang yang
ada di sekitar suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah
di malam terakhir saya sebagai mahasiswi.
Saya lulus dengan 1
pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun,
yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT."
Banyak cerita
tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya,
namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan
dapat mengambil pelajaran bagaimana cara :
Mencintai Sesama
Dengan Memanfaatkan Sedikit Harta Benda Yang Kita Miliki, Dan Bukannya
Mencintai Harta Benda Yang Bukan Milik Kita, Dengan Memanfaatkan Sesama.
Jika anda berpikir
bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang2
terdekat anda.
Disini ada
'malaikat' yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita
ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi
sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya.
Orang bijak
mengatakan :
*Banyak orang yang
datang dan pergi dari kehidupanmu,
tetapi hanya 'sahabat yang bijak' yang akan meninggalkan Jejak di dalam
hatimu.
Untuk
berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk berinteraksi dengan
orang lain, gunakan hatimu...😊😊😊
Happy Day all
True story....
Ini adalah
kisah dari milis warga Indonesia yg
bermukim atau pernah bermukim di Jerman.
Layak untuk dibaca
beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.
Saya adalah ibu dari
tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya.
Kelas terakhir yang
harus saya ambil adalah Sosiologi.
Tugas terakhir dosen
yang diberikan kepada siswanya diberi
nama "Smiling."
Seluruh siswa
diminta untuk memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan
mendokumentasikan reaksi mereka.
Setelah itu setiap
siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas.
Saya adalah seorang
yg mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,
tugas ini sangatlah mudah.
Setelah menerima
tugas tsb, saya bergegas menemui suami san anak bungsu saya yang menunggu di
taman kampus, lalu pergi ke restoran Mc Donald yg berada di kampus.
Pagi itu udaranya
sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya
minta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk dan
saya ikut antrian.
Ketika saya sedang
dalam antrian, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan
bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari
antrian.
Perasaan panik
menguasai diri saya, ketika melihat mengapa mereka semua menyingkir ?
Saat berbalik, saya
membaui suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat
di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil.
Saya bingung, dan
tidak mampu bergerak sama sekali.
Ketika saya
menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, dan ia
sedang "tersenyum" kearah saya.
Lelaki ini bermata
biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap
kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya' ditempat
itu.
Ia menyapa
"Good day !" sambil tetap tersenyum. Secara spontan saya membalas
senyumnya, dan seketika teringat oleh saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen
saya.
Lelaki kedua sedang
memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya.
Saya segera
menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan
mata biru itu adalah "penolong"nya.
Saya merasa sangat
prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal
saya bersama mereka, dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter.
Ketika wanita muda
di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan
kedua lelaki ini untuk memesan duluan.
Lelaki bermata biru
segera memesan "Kopi saja, satu cangkir Nona."
Ternyata dari koin
yang dia pegang hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka. (Aturan di restoran
di Jerman, jika ingin duduk di dalam restoran n menghangatkan tubuh, maka orang
harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan
badan.
Tiba2 saja saya
diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil
mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yg terpisah dari tamu2
lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka.
Pada saat yang
bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga
sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua 'tindakan' saya.
Saya baru tersadar
setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa
yang ingin saya pesan ?
Saya tersenyum dan
minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan
terpisah.
Setelah membayar
semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk
mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya.
Sementara saya
membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih
kedua lelaki itu untuk beristirahat.
Saya letakkan nampan
berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung
telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap "makanan
ini telah saya pesan untuk kalian berdua."
Kembali mata biru
itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2 dan dia
hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya."
Saya mencoba tetap
menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata "Sesungguhnya
bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Allah juga berada di sekitar sini
dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini
kepada kalian."
Mendengar ucapan
saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil
terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.
Saya sudah tidak
dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung
dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka.
Ketika saya duduk
suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata
"Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang
pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku dan anak-2ku !"
Kami saling
berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan
menyadari, bahwa hanya karena 'bisikanNYA' lah kami telah mampu memanfaatkan
'kesempatan' untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat
membutuhkan.
Ketika kami sedang
menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan
disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami,
untuk sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan kami.
Salah satu
diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap "Tanganmu
ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini,
jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang
telah kamu contohkan tadi kepada kami."
Saya hanya bisa
berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan
restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada
'magnit' yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami
sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah kami.
Dalam perjalanan
pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua
orang tunawisma tadi, itu benar2 'tindakan' yang tidak pernah terpikir oleh
saya.
Pengalaman hari itu
menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Allah itu sangat HANGAT dan INDAH
sekali!
Saya kembali ke
college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini ditangan saya. Saya
menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya.
Dan keesokan
harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia
melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini
kepada yang lain ?" dengan senang hati saya mengiyakan.
Ketika akan memulai
kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia
mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan
ruangan kuliah menjadi sunyi.
Dengan cara dan gaya
yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang
hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian
itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya
diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.
Diakhir pembacaan
paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu
kalimat yang saya tulis diakhir paper saya.
"Tersenyumlah
dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang
ditimbulkan oleh senyummu itu."
Dengan caraNYA
sendiri, Allah telah 'menggunakan' diri saya untuk menyentuh orang-orang yang
ada di sekitar suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah
di malam terakhir saya sebagai mahasiswi.
Saya lulus dengan 1
pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun,
yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT."
Banyak cerita
tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya,
namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan
dapat mengambil pelajaran bagaimana cara :
Mencintai Sesama
Dengan Memanfaatkan Sedikit Harta Benda Yang Kita Miliki, Dan Bukannya
Mencintai Harta Benda Yang Bukan Milik Kita, Dengan Memanfaatkan Sesama.
Jika anda berpikir
bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang2
terdekat anda.
Disini ada
'malaikat' yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita
ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi
sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya.
Orang bijak
mengatakan :
*Banyak orang yang
datang dan pergi dari kehidupanmu,
tetapi hanya 'sahabat yang bijak' yang akan meninggalkan Jejak di dalam
hatimu.
Untuk
berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk berinteraksi dengan
orang lain, gunakan hatimu...😊😊😊
Happy Day all
Sabtu, 15 Februari 2020
Dahsyatnya berdoa
Suatu kali seorang Ayah ditanya oleh anaknya:
"Mengapa Ayah selalu rajin berdoa padahal keadaan ekonomi kita tetap biasa saja? Apa yang Ayah dapatkan dgn seringnya Ayah berdo'a secara teratur kepada Tuhan?".
Sang Ayah menjawab:
"Tidak ada yg Ayah dapat, malah Ayah banyak kehilangan; tetapi ....... Ayah akan beritahu kepadamu Nak, apa-apa saja yang hilang itu ...".
Ternyata yang hilang itu adalah:
- Kekuatiran.
- Kemarahan.
- Depresi.
- Kekecewaan.
- Sakit Hati.
- Kerakusan.
- Ketamakan.
- Kebencian.
- Kesombongan.
"Setiap kali setelah berdoa Ayah selalu kembali menjadi tenang.".
Kadangkala, jawaban atas doa kita tidak selalu tentang "apa yg kita dapat" tetapi justru "apa yg hilang" dari kehidupan kita.
Janganlah selalu mengukur kebaikan Tuhan dari "apa yang kita dapat" karena boleh jadi kebaikan Tuhan juga melalui "apa yang hilang" dari kehidupan kita.
#Dahsyatnyaberdoa
K E N T U T
.
“Barangsiapa yang kentut, silakan bangun”
Hening, tak seorang pun berdiri.
.
Ketika datang waktu Isya mereka berkata, Orang yang kentut pasti akan berwudhu setelah ini. Siapa yang berwudu' itu lah yang kentut”.
.
Setelah itu, para sahabat menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang keluar.
Masih seperti tadi, tak seorang pun yang beranjak dari tempat duduknya (mungkin malu).
.
Lalu Bilal bangun untuk mengumandangkan adzan. Kemudian Nabi Muhammad ﷺ berkata: Tunggu dulu, aku belum batal, tapi aku hendak berwudhu lagi.
.
Lalu para sahabat pun ikut berwudhu dan tidak diketahui siapa yang kentut waktu itu.
Maka selamatlah dari aib shahabat nabi ﷺ yang kentut tadi.
Kisah Kentut di atas, menceritakan bagaimana seharusnya seorang muslim menjaga kehormatan saudaranya.
Bukan malah menertawakannya atau menyebarkan aib temannya.
.
Abu Hurairah berkata, bahwa Nabi ﷺ bersabda :
* ﻭَﻣَﻦْ ﺳَﺘَﺮَ ﻣُﺴْﻠِﻤﺎً ﺳَﺘَﺮَﻩُ ﺍﻟﻠﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﺍﻵﺧِﺮَﺓِ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﻓِﻲ ﻋَﻮْﻥِ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪِ ﻣَﺎ ﻛﺎَﻥَ ﺍﻟْﻌَﺒْﺪُ ﻓِﻲ ﻋَﻮْﻥِ ﺃَﺧِﻴْﻪِ .*
“... siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah ﷻ selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya menolong saudaranya.”
.
Subhanallah sungguh mulia sekali akhlak rasulullah ﷺ, beliau mencontohkan kepada kita bahwa setiap muslim adalah saudara dan setiap saudara harus saling menjaga aib atau kehormatan saudaranya itulah yang dicontohkan oleh nabi kepada kita.
.
Semoga kisah tentang kentut diatas bisa memberikan kita pencerahan terhadap perilaku saling menjaga kehormatan setiap saudara sesama manusia.
Karena dengan kita menjaga kehormatan saudara kita, maka Allah ﷻ akan menjaga kehormatan kita.❤
Selasa, 11 Februari 2020
BAGAIMANA ALLAH MENGABULKAN DO'A HAMBA-NYA? (Kisah nyata, Inspiratif)
Kisah nyata, Inspiratif,
Aassalamu'alaikum Wr.Wb,
Alkisah,
Suatu ketika, seorang dokter spesialis syaraf terkemuka di Pakistan, terbang menggunakan pesawat kecil yang hanya berisi beberapa penumpang saja.
Di tengah penerbangan, cuaca tampak sangat mendung. Bahkan langit mendadak gelap. Awan begitu pekat ditimpali kilat yang menyambar-nyambar.
Sangat terasa turbulensi (guncangan) dalam pesawat. Tiba-tiba mesin pesawat terkena petir, yang membuat satu mesin rusak.
Pesawat pun terpaksa harus mendarat darurat. Beruntung ada sebuah bandara kecil yang dekat lokasi kejadian.
Pesawat berhasil mendarat dengan selamat. Namun ternyata bandara itu berada di wilayah pelosok yang sangat terpencil.
"Apakah kalian bisa memperbaiki pesawat ini?" tanya dokter.
Ternyata tidak ada seorangpun yang dapat memperbaiki pesawat. Jadi semua penumpang harus menunggu.
"Berapa lama kita harus menunggu di sini?" tanya dokter.
"Mungkin cukup lama," jawab pilot.
"Tapi aku harus segera tiba di kota sebelah. Sangat penting", lanjut dokter.
"Untuk ke sana, anda perlu waktu 3 jam jika naik mobil", jawab pilot.
"Oh ya. Aku akan sewa mobil saja".
Akhirnya dokter memutuskan menyewa mobil dari bandara itu untuk menuju kota tujuan.
Mobil mulai bergerak.
Namun cuaca masih tetap mendung. Langit gelap, kilat menyambar dengan kencang. Hujan pun turun, sangat deras. Seakan air diguyurkan dari langit. Sangat lebat.
Mobil pun berhenti, tidak dapat bergerak lebih jauh lagi, karena ternyata harus melewati jalan berlumpur. Air mulai membanjiri jalan tanah becek itu.
Dokter segera sadar, ia tidak bisa kemana-mana lagi.
Dalam situasi gelap, dokter melihat ada sebuah rumah kecil terletak di ujung sana.
"Kita pergi ke sana saja. Kita bisa berteduh sembari menumpang shalat. Mungkin disana juga ada makanan barang sedikit," kata dokter kepada sopir.
Mereka pun memutuskan untuk menuju rumah kecil tersebut. Lokasi rumah itu sungguh sangat terpencil dan jauh dari pemukiman penduduk lainnya.
Dokter mengetuk pintu rumah dengan perlahan. "Assalamu alaikum..."
Seorang nenek tua membukakan pintu sembari menjawab salam.
"Ada apa Nak?" tanya sang Nenek.
Dokter segera menceritakan semua yang dialami barusan.
"Sekarang kami hanya ingin menumpang shalat dan istirahat sebentar Nek. Menunggu hujan reda...." ujar dokter.
"Tidak masalah Nak, kalian boleh masuk..."
Nenek mempersilakan tamu shalat di ruang mushalla kecil di dalam rumahnya.
Di dekat ruang mushalla, tampak seorang anak kecil tengah berbaring. Tiap beberapa waktu tertentu, sang Nenek tampak gelisah menengok keadaan anak kecil itu.
Nenek lantas duduk di ruang mushalla. Ia pun berdo'a dan menunaikan shalat.
Setelah selesai shalat, dokter menyapa Nenek.
"Terima kasih banyak Nek. Kami sudah menumpang sholat di sini. Kalau boleh tahu, apa yang terjadi pada anak kecil itu"? tanya dokter.
"Itu adalah anak yatim. Ia tengah sakit parah. Aku adalah nenek dari anak ini..." jawab Nenek.
"Kami telah mengunjungi banyak dokter di daerah sini. Mereka memberitahu kami, bahwa hanya ada satu dokter spesialis yang dapat menolong anak ini..." lanjut Nenek.
"Kami sudah mencoba untuk menemuinya. Tapi mereka minta kami untuk menunggu enam bulan lagi. Tempatnya pun sangat jauh...."
"Sejak hari itu, aku selalu berdo'a kepada Allah : Ya Allah, mudahkan urusan kami. Anak ini sakit, mudahkan urusan kami ya Allah..." ujar Nenek
"Siapa nama dokter spesialis itu Nek?" tanya dokter.
"Namanya dokter Ishan...." jawab Nenek.
Mendengar jawaban itu, dokter pun langsung menangis.
"Kenapa engkau menangis, Nak?" tanya Nenek.
"Nenek, do'amu baru saja dijawab Allah. Akulah dokter Ishan yang kalian cari itu...."
"Mungkin karena do'amu, petir menyambar mesin pesawat yang aku tumpangi. Kami mendarat darurat. Lalu kami menyewa mobil. Hujan turun lagi menghentikan kami dan seterusnya kami ke sini...."
Mendengar penjelasan itu Nenek menangis terharu. Ia segera bersujud, bersyukur kepada Allah.
Subhanallah....
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Semua alam akan menuruti apapun yang Dia kehendaki untuk menyelesaikan suatu urusan. Untuk mengabulkan sebuah do'a.
Sungguh luar biasa. Seorang dokter spesialis neurologi yang sangat sulit ditemui, bahkan tidak bisa bertemu tanpa perjanjian sebelumnya. Pasien harus antri 6 bulan untuk konsultasi.
Tapi perhatikan, Allah telah menggiring dokter spesialis itu sampai ke rumah Nenek yang terpencil, dengan cara-Nya.
Allah yang menggerakkan dokter Ishan untuk mengetuk pintu rumah Nenek, masuk ke dalam, menunaikan shalat di ruang mushalla, sampai akhirnya melakukan pengobatan terhadap anak yatim yang sakit parah itu....
Subhanallah....
Maka tetaplah terus berdo'a. Yakinlah atas kekuasaan Allah Azza wa Jalla.
Sungguh, Allah Maha Mengabulkan do'a.
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
"Dan Tuhan kalian berfirman : berdo'alah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan kalian."
Dikirim oleh Ustadz Musyaffa AR, dari teman beliau.
#Bacalah Al Qur'an
#Istiqomah Sedekah
#Perbanyak ISTIGHFAR
# Doain Orang tua
# Doain Orang lain
# Barakallahu Fiikum
Senin, 03 Februari 2020
SILENT SHADAQAH
Seorang lelaki masuk
ke toko buah, "Berapa harga pisang dan apel sekilo?"
Penjual,
"Pisang sekilo Rp 15 rb, kalo apel sekilo Rp 50 rb"
Tidak lama kemudian
seorang Ibu yang sepertinya sudah kenal dengan si penjual, masuk kedalam toko.
"Berapa harga
satu kilo pisang dan apel ?"
Penjual,
"Pisang Rp 5 rb sekilo, klw apel Rp 10 rb sekilo."
Ibu,
"Alhamdulillah..."
Merasa dicurangi,
lelaki tadi mendekati penjual dengan mata yang memerah karena marah, dan akan
ngomel pada penjual, tetapi si penjual segera memberi isyarat mata dan berkata
padanya, "tunggu saya sebentar ya pak."
Kemudian si penjual
memberikan kepada si Ibu tsb 1 kg pisang dan 1 kg apel dengan total harga Rp 15
rb.
Ibu itu pergi dgn
gembira dan berkata, "Alhamdulillah terimakasih Ya Allah... anak-anakku
akan bisa makan buah."
Setelah Ibu tsb
pergi, si penjual meminta maaf pada pembeli lelaki tadi dan berkata,
"Demi Allah,
saya tidak mencurangi anda, pak.Tetapi Ibu itu mempunyai empat anak yatim namun
dia selalu menolak bantuan apapun dari orang lain, setiap kali kali saya ingin
membantunya pasti dia menolak
Saya berfikir keras
bagaimana caranya saya bisa menolongnya tanpa membuat dia merasa malu, dan saya
tidak menemukan cara selain ini, yaitu dengan mengurangi harga untuknya.
"Saya ingin dia
tetap merasa tidak membutuhkan bantuan saya, dan saya juga ingin berniaga
dengan Allah dan menyenangkan hati mereka.
Ibu itu datang
kemari seminggu sekali.
Demi Allah yang
tiada Tuhan selain-Nya, setiap kali Ibu itu membeli buah dari saya,
hari itu saya selalu
mendapatkan untung berlipat-lipat dan mendapatkan Rizqi dari jalan yang tak
saya sangka-sangka...."
Seketika itu lelaki
pembeli tadi terperangah, tanpa disadari dia meneteskan air mata.
Segera dia salami
tangan mulia si penjual dan dia peluk erat tubuhnya.
"Terima kasih
mas, engkau telah mengajariku makna
sedekah yang sesungguhnya."
****
Saudaraku...
"Sungguh dalam
menolong kebutuhan orang lain, ada kelezatan yang hanya bisa dirasakan oleh
orang yang pernah melakukannya"
"Bukalah pintu
Rizqi selebar-lebarnya dengan kunci bersedekah...!"
Selamat meraih rizki
Allah dhari yang penuh berkah ini, saudara-riku tercinta....
Langganan:
Komentar (Atom)




