Kumpulan Broadcast | Kumpulan BC | Numpang BC | Kumpulan SMS | Comunitas Online Shop | Tukar PIN BB | Add PIN BB | Invite PIN BB | Kumpulan Iklan | Kumpulan Broadcast BBM | Numpang BC BBM | Kumpulan Cerita Lucu | Kumpulan Cerita Inspiratif | BC Cerita Lucu | BC Iklan | Lowongan Kerja
Selasa, 14 April 2020
PSBB, AL QURAN DAN IMUNITAS TUBUH
Oleh Ahmad Syaikhu
Wabah Corona yang masih berlangsung sampai saat ini, harus dihadapi antara lain dengan memperkuat imunitas tubuh.
Mengapa? Sebab, menurut banyak ahli kesehatan, salah satu cara terbaik melawan Corona adalah dengan meningkatkan imunitas.
Daya tahan tubuh antara lain dapat diperoleh dengan cara membaca Al-Qur’an. Selain tentu saja dengan makanan, minuman dan vitamin lainnya.
Mengapa Al-Qur’an dapat meningkatkan imunitas tubuh? Dalam suatu konferensi kedokteran di Kairo, Doktor Ahmad Al-Qadli menyatakan bahwa mendengarkan atau membaca Al-Quran mampu menimbulkan ketenangan jiwa.
Kondisi ini menyebabkan peningkatan daya imunitas tubuh melawan serangan penyakit.
Ahli penyakit jantung dan direktur lembaga pendidikan dan penelitian kedokteran Islam di Amerika itu menyampaikan hal tersebut setelah mengadakan riset lapangan.
Ada 210 pasien sukarela selama 48 kali pengobatan yang dibarengi dengan pembacaan Al-Quran atau memperdengarkannya. Hasilnya, 77% dari sampel acak yang terdiri dari muslim dan non muslim menampakkan adanya gejala pengenduran saraf yang tegang dan selanjutnya ini menimbulkan ketenangan jiwa.
Semua gejala tadi direkam dengan alat pendeteksi elektronik yang dilengkapi dengan komputer untuk mengukur setiap perubahan yang terjadi dalam tubuh selama pengobatan.
Menurut Al-Qadli, berkurangnya ketegangan saraf ini mampu mengaktifkan dan meningkatkan daya imunitas tubuh dan memperoleh proses kesembuhan pasien.
Penemuan seperti ini tentu semakin meyakinkan kita terkait i’jazul Qur’an (kemu’jizatan Al-Quran). Memang Allah SWT sudah menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah obat, sebagaimana firman Allah SWT
وَنُنَزِّلُ مِن ٱلْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارًا “Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al-Isra 82)
🌹NENEK PEMUNGUT DAUN🌹
Kisah nyata yg menyentuh dan tetap nikmat dibaca meskipun telah berulang
Alkisah pada sebuah kota di Pulau Madura, tersebutlah seorang nenek yg kesehariannya bekerja sebagai penjual bunga cempaka di sebuah pasar.
Seperti kebiasaan setiap harinya usai berjualan, sang nenek selalu menyempatkan diri mampir ke Masjid Agung yg terdapat di kota itu dengan berjalan kaki walau jaraknya cukup jauh.
Ia kemudian berwudhu, masuk ke Masjid, dan melakukan shalat dhuhur.
Setelah berdzikir dan berdoa sekedarnya, ia segera keluar dari Masjid dan membungkuk-bungkuk badannya di halaman Masjid. Untuk apa? Si nenek dengan sabarnya memunguti serta mengumpulkan daun-daun yang berserakan di halaman Masjid tersebut.
Selembar demi selembar daun dikaisnya. Tak satu lembar daun pun ia lewatkan.
Tentu saja agak lama sang nenek membersihkan halaman Masjid dengan cara seperti itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh panas menyengat, hingga keringat pun jadi membasahi sekujur tubuhnya.
Banyak jemaah Masjid yang jatuh iba kepadanya, sehingga suatu hari Ta'mir Masjid memutuskan untuk membersihkan sendiri dedaunan itu sebelum si nenek tersebut datang.
Pada suatu hari, seperti biasanya sang nenek datang dan langsung masuk Masjid.
Berwudhu' dan dilanjutkan Shalat. Usai shalat, ketika ia hendak melakukan kebiasaan rutinnya, betapa terkejutnya ia. Sebab tak ada satu lembar pun daun yang berserakan disana. Ia kembali lagi ke Masjid dan menangis dengan sesenggukan di hadapan jamaah. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah dibersihkan sebelum kedatangannya.
Para jemaah mencoba menjelaskan bahwa mereka merasa kasihan kepadanya sehingga mereka mendahului membersihkan sebelum kedatangan si nenek.
"Jika kalian kasihan kepada saya, berikan kesempatan kepada saya untuk membersihkannya! Biarkan saya yang akan melakukannya." pinta nenek tersebut.
Singkat cerita, akhirnya sang nenek dibiarkan mengumpulkan dan membersihkan dedaunan itu seperti biasanya.
Karena orang-orang menjadi penasaran dengan kelakuan nenek tersebut, maka salah seorang kyai diminta untuk menanyakan kepada si nenek mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu.
Maka bertanyalah sang Kyai. Akan tetapi Perempuan tua itu hanya mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat:
Pertama : Hanya Kyai yang mendengarkan rahasianya.
Kedua : Rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. (Sekarang sang nenek telah meninggal dunia dan kita dapat mendengarkan rahasia tersebut)
Setelah sang Kyai berjanji, maka berkatalah si nenek :
"Saya ini perempuan bodoh, Pak Kyai." tuturnya.
"Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Yang saya tahu, saya tidak mungkin selamat pada hari kiamat dan di akhirat tanpa mendapat syafaat Kanjeng Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya mengucapkan satu shalawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Memberi syafaat kepada saya. Biarlah semua dedaunan itu bersaksi bahwa saya telah membacakan shalawat kepadanya." tambah nenek tua tersebut.
Sang kyai hanya mampu tertegun mendengarkan cerita nenek tersebut. Seakan tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya.
Perempuan tua yang hanya dari sebuah kampung itu, tidak saja telah mengamalkan dan mengungkapkan rasa cintanya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam bentuknya yang tulus. Ia juga telah menunjukkan sifat kerendahan hati (tawadhdhu’) di hadapan manusia, dan tadharru’ (kerendahan diri ke Hadirat Tuhannya), serta pengakuan akan keterbatasan amal dihadapan Allah Subhanahu wata'ala
Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang tinggi, yang amat luhur. Ia sadar bahwa dia tidak dapat hanya mengandalkan amalannya untuk dapat selamat di Akhirat kelak. Dia sangat bergantung pada Rahmat dari Rabb-nya
Dan siapa lagi yang menjadi rahmat di semesta alam ini selain Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?
Karenanya, syafaat dari Rasulullah itulah yang sangat dia harapkan.
Subhanallah....
Allahumma shalli 'ala Muhammad wa'ala ali Muhammad.
Kisah nyata ini dituturkan oleh salah satu Kyai di Madura, Bapak K.H. D. Zawawi Imron.
KISAH SEBUAH MAKAM DI TURKI BERPINDAH KE MADINAH
Dikutip dari kitab "Karomatul Auliya Wa Thobaqotul Auliya' Dan Hilyatul Auliya"
Suatu ketika As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki Al Hasani Berkata; Dulu ada seorang tua di Turki yang hobinya membaca Al Qur'an, dari masa muda memang dia senang membaca Qur'an sampai dimasa tuanya. Namun ketika dia memasuki usia tua, dia mengalami kesulitan membaca dikarenakan kemampuan matanya sudah tidak seperti dulu lagi.
Lalu ia pun memiliki ide untuk menulis Al Qur'an dengan tangannya sendiri dan ingin menulis dengan huruf agak besar sesuai dengan yang dia inginkan, supaya ia bisa membaca Al Qur'an dengan jelas tanpa kesulitan sedikitpun. Akhirnya selesailah Al Qur'an hasil tulisan tangannya sendiri. Dan setiap hari ia membaca & membawa Al Qur'an itu kemana mana.
Suatu saat ketika dia hendak wafat, ia berpesan kepada anaknya, nanti bila ia wafat maka hendaklah Al Qur'an yang dibuat dengan tulisan tangannya sendiri itu di ikut sertakan kedalam jasadnya ke dalam kuburnya. Selang berapa lama ia pun wafat dan anaknya pun segera menunaikan wasiat ayahnya untuk memasukkan Al Qur'an itu kedalam kubur ayahnya bersama jasadnya pada saat pemakamannya.
Setelah berlalu satu tahun dari wafat ayahnya. Anaknya pun menunaikan ibadah haji. Dan saat anaknya berada di Madinah, anaknya berjalan-jalan ketempat perbelanjaan. Dan ia memasuki sebuah kedai kitab & kaligrafi di Madinah. Alangkah terkejut anaknya ketika melihat Al Qur'an yang ditulis ayahnya ada di kedai itu.
Ia pun bertanya kepada penjaga kedai itu sambil menunjukkan Al Qur'an itu kepada penjaga kedai: "Dari manakah al Qur'an ini didapat"?
Maka penjaga kedai itu Menjawab:
Saya mendapatkan al Qur'an itu dari seorang penggali kubur".
Anaknya berkata lagi :
Bisakah anda mempertemukan kepada saya penggali kubur tersebut".
Lalu penjaga kedai itu pun segera mempertemukannya dengan penggali kubur tersebut. Setelah bertemu dengan penggali kubur itu, anaknya tadi segera bertanya kepada penggali kubur.
Bagaimana anda bisa mendapatkan al Qur'an ini" (sambil menunjukkan Al Qur'an tulisan tangan ayahnya kepada penggali kubur tersebut).
Lalu penggali kubur itu berkata :
Saat saya menggali kubur untuk seseorang di Baqi' (pemakaman di Madinah), saya melihat sebuah jasad masih utuh dan di samping jasad itu ada sebuah Al Qur'an tulisan tangan persis dengan yang ada ditangan anda sekarang ini.
Saya pun mengambilnya dan menyimpannya, dan suatu ketika saya butuh uang, karena saya butuh uang akhirnya saya menjualnya ke sebuah kedai".
Anaknya pun berkata lagi kepada penggali kubur: Bisakah anda menunjukkan kepada saya, dimana letak posisi makam dimana anda menemukan Al Qur'an ini. Dan kalau anda mau bisakah anda menggali makam tersebut untuk saya sekali saja, karena saya ingin melihat orang yang ada didalam makam tersebut".
Penggali kubur itu berkata: insyaa Alloh saya akan lakukan, bila itu yang anda minta"
Setelah penggalian dilakukan oleh si penggali kubur. Akhirnya tampaklah, ternyata memang jasad ayahnya yang berada di dalam kubur tersebut, sementara jasadnya dalam keadaan masih utuh. Anak itupun menangis melihat jasad ayahnya tersebut dan kagum dengan keajaiban tersebut. Padahal dia melihat sendiri saat pemakaman ayahnya itu di Turki setahun yang lalu. Dan bagaimana bisa makam ayahnya sekarang berada di Madinah.
Dan mengenai hal ini As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani berkata :
المَرْءُ مَعَ مَنْ اَحَبَّ
"Seseorang itu akan dikumpulkan bersama orang yang dia Cintai"
Baik di dunia, di alam kubur ataupun di akhirat nanti. Karena orang yang di dalam kubur tersebut mencintai Rosululloh Saw, maka Alloh mengumpulkan dia dengan Rosululloh Saw, baik secara dzohir ataupun secara batin. Dan menurut Imam Al Ghozali itu bukan suatu perkara yang sulit atau mustahil. Dan kejadian seperti itu memang sudah sering terjadi.
Subhanallah
Semoga Keluarga kita dan anak keturunan kita, Istiqomah dalam membaca Al-Qur'an, dan semoga Allah jadikan Keluarga kita menjadi keluarga yang Sholeh dan sholehah, Amiin.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ، الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ، وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ
Rabu, 08 April 2020
Kenikmatan Yang Hilang
Sesuatu baru dirasakan keberadaan nya setelah dirasakan ketiadaannya
Banyak
aktifitas rutin yang tidak dapat dilakukan saat ini yang dirasakan sebagai kehilangan walaupun pada saat bisa melakukannya tidak
dilakukan dengan serius, kesungguhan hati
Menyesal teringat ketika membiarkan diri kita tertidur saat memdengar khutbah Jumat, tak terpikirkan saat itu bahwa suatu ketika tidak dapat mendengarkan khutbah Jumat lagi
Sedih ketika mengingat saat melalaikan waktu kehadiran sholat Jumat, datang terlambat saat khotib berkhutbah, tidak terpikirkan bahwa suatu saat tidak bisa menghadiri sholat Jumat lagi.
Tertegun ketika mengingat saat meremehkan perintah untuk merapatkan shaf pada saat sholat , tak terbayangkan bahwa suatu ketika sholat dilakukan dengan berjarak lebar lebar kesamping.
Malu rasanya mengingat sering mengabaikan sholat berjamaah dimasjid , sering datang menjadi masbuk , tak terkirakan suatu ketika sholat berjamaah menjadi suatu yang tidak bisa dilakukan.
Menyesal ketika kita enggan diundang duduk di masjid mendengarkan pengajian , menimba ilmu, tak terbayangkan ketika suatu saat tidak bisa lagi menghadiri majelis ilmu
Kehilangan yang tidak disangka sangka, yang tak terduga, tak terprediksikan
Ada suatu yang hilang, yang kurang , yang terasa ketidak hadirannya.
Marilah kita berharap dan berdoa saat saat itu dapat tiba lagi dan kita berjanji akan melakukannya dengan kesungguhan dan sepenuh hati.
Arnoldison
Sabtu, 22 Februari 2020
INSPIRASI : PERKAWINAN EMAS
Semoga Kisah ini bagus untuk dijadikan perenungan kita semua.
Pada suatu pesta PERKAWINAN EMAS, nyonya rumah yg sudah tua menjawab pertanyaan MC, dan inilah dialog mereka......
MC : Apakah ibu merasa suami ibu ada kekurangannya?
Si nyonya : Sebanyak bintang di langit ! Tidak sanggup menghitung semuanya !
MC : (Terkejut) Apakah kebaikan suami ibu juga banyak sekali?
Si nyonya: Sedikit sekali ! Bagaikan matahari di langit !
MC : (Gregetan) Terus kenapa ibu bisa hidup bersamanya setengah abad dab tetap saling menyayangi ? (Heran)
Si nyonya: Karena begitu matahari terbit, semua bintang di langit jadi tdk kelihatan !
MC : Luaaaarr biasaa..
"Kebencian menimbulkan pertengkaran...tetapi rasa kasih sayang menutupi semua kekurangan..."
Sungguh luar biasa sekali. Inilah rahasia keharmonisan dan kerukunan dimana pun juga. Kelanggengan persahabatan, keharmonisan pasangan, kerukunan keluarga karena saling mengalah dan melihat kebaikan masing-masing atas dasar "Kasih Sayang"
Pada suatu pesta PERKAWINAN EMAS, nyonya rumah yg sudah tua menjawab pertanyaan MC, dan inilah dialog mereka......
MC : Apakah ibu merasa suami ibu ada kekurangannya?
Si nyonya : Sebanyak bintang di langit ! Tidak sanggup menghitung semuanya !
MC : (Terkejut) Apakah kebaikan suami ibu juga banyak sekali?
Si nyonya: Sedikit sekali ! Bagaikan matahari di langit !
MC : (Gregetan) Terus kenapa ibu bisa hidup bersamanya setengah abad dab tetap saling menyayangi ? (Heran)
Si nyonya: Karena begitu matahari terbit, semua bintang di langit jadi tdk kelihatan !
MC : Luaaaarr biasaa..
"Kebencian menimbulkan pertengkaran...tetapi rasa kasih sayang menutupi semua kekurangan..."
Sungguh luar biasa sekali. Inilah rahasia keharmonisan dan kerukunan dimana pun juga. Kelanggengan persahabatan, keharmonisan pasangan, kerukunan keluarga karena saling mengalah dan melihat kebaikan masing-masing atas dasar "Kasih Sayang"
Senin, 17 Februari 2020
True Story.. Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu
Ini adalah
kisah dari milis warga Indonesia yg
bermukim atau pernah bermukim di Jerman.
Layak untuk dibaca
beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.
Saya adalah ibu dari
tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya.
Kelas terakhir yang
harus saya ambil adalah Sosiologi.
Tugas terakhir dosen
yang diberikan kepada siswanya diberi
nama "Smiling."
Seluruh siswa
diminta untuk memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan
mendokumentasikan reaksi mereka.
Setelah itu setiap
siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas.
Saya adalah seorang
yg mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,
tugas ini sangatlah mudah.
Setelah menerima
tugas tsb, saya bergegas menemui suami san anak bungsu saya yang menunggu di
taman kampus, lalu pergi ke restoran Mc Donald yg berada di kampus.
Pagi itu udaranya
sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya
minta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk dan
saya ikut antrian.
Ketika saya sedang
dalam antrian, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan
bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari
antrian.
Perasaan panik
menguasai diri saya, ketika melihat mengapa mereka semua menyingkir ?
Saat berbalik, saya
membaui suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat
di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil.
Saya bingung, dan
tidak mampu bergerak sama sekali.
Ketika saya
menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, dan ia
sedang "tersenyum" kearah saya.
Lelaki ini bermata
biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap
kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya' ditempat
itu.
Ia menyapa
"Good day !" sambil tetap tersenyum. Secara spontan saya membalas
senyumnya, dan seketika teringat oleh saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen
saya.
Lelaki kedua sedang
memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya.
Saya segera
menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan
mata biru itu adalah "penolong"nya.
Saya merasa sangat
prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal
saya bersama mereka, dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter.
Ketika wanita muda
di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan
kedua lelaki ini untuk memesan duluan.
Lelaki bermata biru
segera memesan "Kopi saja, satu cangkir Nona."
Ternyata dari koin
yang dia pegang hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka. (Aturan di restoran
di Jerman, jika ingin duduk di dalam restoran n menghangatkan tubuh, maka orang
harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan
badan.
Tiba2 saja saya
diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil
mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yg terpisah dari tamu2
lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka.
Pada saat yang
bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga
sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua 'tindakan' saya.
Saya baru tersadar
setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa
yang ingin saya pesan ?
Saya tersenyum dan
minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan
terpisah.
Setelah membayar
semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk
mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya.
Sementara saya
membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih
kedua lelaki itu untuk beristirahat.
Saya letakkan nampan
berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung
telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap "makanan
ini telah saya pesan untuk kalian berdua."
Kembali mata biru
itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2 dan dia
hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya."
Saya mencoba tetap
menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata "Sesungguhnya
bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Allah juga berada di sekitar sini
dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini
kepada kalian."
Mendengar ucapan
saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil
terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.
Saya sudah tidak
dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung
dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka.
Ketika saya duduk
suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata
"Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang
pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku dan anak-2ku !"
Kami saling
berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan
menyadari, bahwa hanya karena 'bisikanNYA' lah kami telah mampu memanfaatkan
'kesempatan' untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat
membutuhkan.
Ketika kami sedang
menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan
disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami,
untuk sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan kami.
Salah satu
diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap "Tanganmu
ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini,
jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang
telah kamu contohkan tadi kepada kami."
Saya hanya bisa
berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan
restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada
'magnit' yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami
sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah kami.
Dalam perjalanan
pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua
orang tunawisma tadi, itu benar2 'tindakan' yang tidak pernah terpikir oleh
saya.
Pengalaman hari itu
menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Allah itu sangat HANGAT dan INDAH
sekali!
Saya kembali ke
college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini ditangan saya. Saya
menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya.
Dan keesokan
harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia
melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini
kepada yang lain ?" dengan senang hati saya mengiyakan.
Ketika akan memulai
kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia
mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan
ruangan kuliah menjadi sunyi.
Dengan cara dan gaya
yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang
hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian
itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya
diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.
Diakhir pembacaan
paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu
kalimat yang saya tulis diakhir paper saya.
Dengan caraNYA
sendiri, Allah telah 'menggunakan' diri saya untuk menyentuh orang-orang yang
ada di sekitar suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah
di malam terakhir saya sebagai mahasiswi.
Saya lulus dengan 1
pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun,
yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT."
Banyak cerita
tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya,
namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan
dapat mengambil pelajaran bagaimana cara :
Mencintai Sesama
Dengan Memanfaatkan Sedikit Harta Benda Yang Kita Miliki, Dan Bukannya
Mencintai Harta Benda Yang Bukan Milik Kita, Dengan Memanfaatkan Sesama.
Jika anda berpikir
bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang2
terdekat anda.
Disini ada
'malaikat' yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita
ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi
sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya.
Orang bijak
mengatakan :
*Banyak orang yang
datang dan pergi dari kehidupanmu,
tetapi hanya 'sahabat yang bijak' yang akan meninggalkan Jejak di dalam
hatimu.
Untuk
berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk berinteraksi dengan
orang lain, gunakan hatimu...😊😊😊
Happy Day all
True story....
Ini adalah
kisah dari milis warga Indonesia yg
bermukim atau pernah bermukim di Jerman.
Layak untuk dibaca
beberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.
Saya adalah ibu dari
tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya.
Kelas terakhir yang
harus saya ambil adalah Sosiologi.
Tugas terakhir dosen
yang diberikan kepada siswanya diberi
nama "Smiling."
Seluruh siswa
diminta untuk memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan
mendokumentasikan reaksi mereka.
Setelah itu setiap
siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas.
Saya adalah seorang
yg mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,
tugas ini sangatlah mudah.
Setelah menerima
tugas tsb, saya bergegas menemui suami san anak bungsu saya yang menunggu di
taman kampus, lalu pergi ke restoran Mc Donald yg berada di kampus.
Pagi itu udaranya
sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya
minta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk dan
saya ikut antrian.
Ketika saya sedang
dalam antrian, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan
bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari
antrian.
Perasaan panik
menguasai diri saya, ketika melihat mengapa mereka semua menyingkir ?
Saat berbalik, saya
membaui suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat
di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil.
Saya bingung, dan
tidak mampu bergerak sama sekali.
Ketika saya
menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, dan ia
sedang "tersenyum" kearah saya.
Lelaki ini bermata
biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap
kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya' ditempat
itu.
Ia menyapa
"Good day !" sambil tetap tersenyum. Secara spontan saya membalas
senyumnya, dan seketika teringat oleh saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen
saya.
Lelaki kedua sedang
memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya.
Saya segera
menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan
mata biru itu adalah "penolong"nya.
Saya merasa sangat
prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal
saya bersama mereka, dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter.
Ketika wanita muda
di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan
kedua lelaki ini untuk memesan duluan.
Lelaki bermata biru
segera memesan "Kopi saja, satu cangkir Nona."
Ternyata dari koin
yang dia pegang hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka. (Aturan di restoran
di Jerman, jika ingin duduk di dalam restoran n menghangatkan tubuh, maka orang
harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan
badan.
Tiba2 saja saya
diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil
mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yg terpisah dari tamu2
lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka.
Pada saat yang
bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga
sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua 'tindakan' saya.
Saya baru tersadar
setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa
yang ingin saya pesan ?
Saya tersenyum dan
minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan
terpisah.
Setelah membayar
semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk
mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya.
Sementara saya
membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih
kedua lelaki itu untuk beristirahat.
Saya letakkan nampan
berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung
telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap "makanan
ini telah saya pesan untuk kalian berdua."
Kembali mata biru
itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2 dan dia
hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya."
Saya mencoba tetap
menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata "Sesungguhnya
bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Allah juga berada di sekitar sini
dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini
kepada kalian."
Mendengar ucapan
saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil
terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.
Saya sudah tidak
dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung
dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka.
Ketika saya duduk
suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata
"Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang
pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku dan anak-2ku !"
Kami saling
berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan
menyadari, bahwa hanya karena 'bisikanNYA' lah kami telah mampu memanfaatkan
'kesempatan' untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat
membutuhkan.
Ketika kami sedang
menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan
disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami,
untuk sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan kami.
Salah satu
diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap "Tanganmu
ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini,
jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang
telah kamu contohkan tadi kepada kami."
Saya hanya bisa
berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan
restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada
'magnit' yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami
sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah kami.
Dalam perjalanan
pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua
orang tunawisma tadi, itu benar2 'tindakan' yang tidak pernah terpikir oleh
saya.
Pengalaman hari itu
menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Allah itu sangat HANGAT dan INDAH
sekali!
Saya kembali ke
college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini ditangan saya. Saya
menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya.
Dan keesokan
harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia
melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini
kepada yang lain ?" dengan senang hati saya mengiyakan.
Ketika akan memulai
kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia
mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan
ruangan kuliah menjadi sunyi.
Dengan cara dan gaya
yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang
hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian
itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya
diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.
Diakhir pembacaan
paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu
kalimat yang saya tulis diakhir paper saya.
"Tersenyumlah
dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang
ditimbulkan oleh senyummu itu."
Dengan caraNYA
sendiri, Allah telah 'menggunakan' diri saya untuk menyentuh orang-orang yang
ada di sekitar suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah
di malam terakhir saya sebagai mahasiswi.
Saya lulus dengan 1
pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun,
yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT."
Banyak cerita
tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya,
namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan
dapat mengambil pelajaran bagaimana cara :
Mencintai Sesama
Dengan Memanfaatkan Sedikit Harta Benda Yang Kita Miliki, Dan Bukannya
Mencintai Harta Benda Yang Bukan Milik Kita, Dengan Memanfaatkan Sesama.
Jika anda berpikir
bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang2
terdekat anda.
Disini ada
'malaikat' yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita
ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi
sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya.
Orang bijak
mengatakan :
*Banyak orang yang
datang dan pergi dari kehidupanmu,
tetapi hanya 'sahabat yang bijak' yang akan meninggalkan Jejak di dalam
hatimu.
Untuk
berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk berinteraksi dengan
orang lain, gunakan hatimu...😊😊😊
Happy Day all
Sabtu, 15 Februari 2020
Dahsyatnya berdoa
Suatu kali seorang Ayah ditanya oleh anaknya:
"Mengapa Ayah selalu rajin berdoa padahal keadaan ekonomi kita tetap biasa saja? Apa yang Ayah dapatkan dgn seringnya Ayah berdo'a secara teratur kepada Tuhan?".
Sang Ayah menjawab:
"Tidak ada yg Ayah dapat, malah Ayah banyak kehilangan; tetapi ....... Ayah akan beritahu kepadamu Nak, apa-apa saja yang hilang itu ...".
Ternyata yang hilang itu adalah:
- Kekuatiran.
- Kemarahan.
- Depresi.
- Kekecewaan.
- Sakit Hati.
- Kerakusan.
- Ketamakan.
- Kebencian.
- Kesombongan.
"Setiap kali setelah berdoa Ayah selalu kembali menjadi tenang.".
Kadangkala, jawaban atas doa kita tidak selalu tentang "apa yg kita dapat" tetapi justru "apa yg hilang" dari kehidupan kita.
Janganlah selalu mengukur kebaikan Tuhan dari "apa yang kita dapat" karena boleh jadi kebaikan Tuhan juga melalui "apa yang hilang" dari kehidupan kita.
#Dahsyatnyaberdoa
Langganan:
Postingan (Atom)



